LDM Story: Sebuah Refleksi 6 Bulan Pernikahan

Artikel ini mulai saya tulis saat perjalanan di kereta dari Durham menuju Manchester Int’l Airport untuk menjemput Nia. Ini adalah kali kedua kunjungannya ke UK selang 3 minggu setelah kunjungan pertamanya saat menemani saya datang ke Durham.

20161023184952_img_0087

Tak terasa, sudah sebulan kami berada di tanah Britania untuk melajutkan studi pasca sarjana saya. Sudah enam bulan sejak kami menikah, telah banyak suka duka yang kami hadapi. Artikel ini saya tulis sebagai bahan refleksi kami semata atas apa yang telah kami lalui bersama.

Ada banyak sekali yang penasaran (mungkin sekaligus heran) sehingga bertanya kepada kami namun tak sempat untuk menjelaskannya secara panjang lebar. Alhamdulillah, dari beberapa orang yang sempat kami ceritakan, respons mereka sejauh ini cukup positif dan suportif. Bahkan, tak sedikit pula yang bilang keren lah, relationship goals banget lah, etc. Dan yang paling menarik (sehingga akhirnya tergerak untuk menuliskannya) adalah saat flatmate saya begitu antusias saat (terus-menerus) bertanya perihal kisah kami. Bahkan saat pacarnya mampir ke rumah, dengan begitu semangat dia bercerita mengenai kami hingga “Look at them. They’re very cool!” Bla bla bla yang intinya dia kepingin hubungannya dengan sang pacar juga bisa punya relationship goals yang seperti kami. Flatmate saya tersebut adalah seorang Filipino yang sudah menetap cukup lama di London dan memiliki pacar seorang French. Meski terpisah secara jarak yang cukup jauh antara satu sama lain, tetapi tetap berupaya keras dengan berbagai cara agar tetap memiliki quality time layaknya kehidupan suami istri secara normal.

Maklum, hubungan pernikahan yang kami jalani termasuk hal yang “unik” bagi sebagian orang, termasuk dia, bahkan terutama juga keluarga besar kami. Sebab (very) Long Distance Marriage atau LDM bukanlah hal yang umum di keluarga besar kami. Hingga kami harus berkali-kali meyakinkan bahwa InSyaa Allah semuanya akan baik-baik saja.

 

Menuju Pelaminan

Pada awal tahun 2015, orang tua Nia mendapat tugas untuk penempatan di Kota Wellington, Selandia Baru. Meskipun memang sudah saatnya untuk kembali bertugas di Luar Negeri, namun kabar tersebut cukup mendadak. Sebab rencana keberangkatannya hanya berselang dua bulan setelah Nota Dinas diterima. Cukup mengagetkan pula bagi saya sebab saat itu sempat berpikir bahwa itu artinya apabila saya tidak menikahi Nia dalam rentang waktu tersebut, maka kemungkinan baru akan bisa menikah sekitar 4 tahun lagi (menunggu orang tuanya kembali dinas di dalam negeri).

Dua bulan tentu waktu yang singkat untuk mempersiapkan pernikahan, namun empat tahun terasa begitu lama untuk menanti sebuah penikahan dengan wanita yang begitu dicinta. Sebetulnya singkat bukan karena memikirkan persiapan untuk pesta pernikahan, akan tetapi lebih kepada kesiapan mental dan perencanaan kehidupan pasca pernikahan dalam jangka panjang. Saat itu, saya dan Nia sedang dalam proses seleksi beasiswa untuk meneruskan studi kami.

Dengan mengumpulkan segenap nyali, satu bulan sebelum keberangkatan mereka, saya memberanikan diri untuk sowan kepada orang tua Nia. Saat itu, tujuan utama saya bersilaturahim adalah untuk berkonsultasi mengenai “masa depan”. Saya sampaikan kepada Papanya Nia bahwa saya memiliki niatan untuk membina rumah tangga bersama anaknya. Saya kemukakan juga bahwa saat itu saya (dan Nia) bercita-cita untuk melanjutkan studi hingga jenjang tertinggi berikut career aspiration kami di masa depan. Berbagai penjelasan yang saya uraikan tersebut saya akhiri dengan pertanyaan mengenai bagaimana sebaiknya kami melangkah dengan kondisi saat itu yang mengharuskan mereka untuk menetap di Wellington dalam waktu dekat.

Alhamdulillah, dengan sambutan hangat penuh dengan kebijaksanaan, Papa mencoba meredam berbagai rasa kekhawatiran yang saya rasakan. Beliau sampaikan bahwa beliau bersedia untuk mengajukan cuti setelah satu tahun menjalani dinas di penempatan tersebut apabila saya telah benar2 siap untuk menikah. Mama juga menyatakan kesiapannya untuk pulang ke Tanah Air untuk mempersiapkan acara penikahan tersebut jika dibutuhkan. Jawaban dari keduanya perlahan cukup membuat sedikit lega.

Akhirnya kabar bahagia menghampiri kami pada bulan November 2015. Papa mendapatkan tugas perjalanan dinas di Indonesia selama 2 minggu. Acara lamaran (dan pernikahan) yang sedianya diagendakan sekitar 1 minggu sebelum acara Ijab Kabul dan resepsi, diubah menjadi pada selang waktu perjalanan dinas papa tersebut. Artinya, kami memiliki waktu persiapan yang lebih matang untuk pernikahan tersebut. Di sisi lain, itu juga menjadi awal perjuangan kami berdua dalam mempersiapkan segalanya berdua. Mungkin harus ada artikel khusus untuk membahas tentang perjuangan kami dalam mempersiapkan pernikahan tersebut.

Nah, di tengah persiapan menuju hari pernikahan kami, kabar bahagia menghampiri Nia. Dia (akhirnya) mendapat kesempatan juga untuk melanjutkan studinya ke jenjang Master di University of Auckland melalui beasiswa pemerintah Selandia Baru. Rasa-rasanya, orang tua Nia lah yang paling bahagia dengan kabar tersebut. Itu artinya, mereka akan bisa berkumpul kembali di Negara tersebut. Sebab tak lama lagi, mereka akan segera merelakan Nia untuk berpisah dengan mereka karena akan segera menjadi istri dari seorang laki-laki yang belum terlalu lama mereka kenal.

Sebelumnya, saya telah mendapat kepastian terlebih dahulu untuk melanjutkan studi master di Durham University dengan beasiswa LPDP Kemenkeu RI. Berhubung jadwal intake untuk jurusan studi saya tersebut hanya ada sekali dalam setahun, saya baru akan berangkat pada September 2016. Sedianya, Nia akan saya boyong untuk menemani saya selama studi di sana sebagai dependent. Dengan adanya kabar mengenai beasiswa dari pemerintah Selandia Baru untuknya, kami pun harus merombak ulang rencana awal tersebut.

Dan akhirnya, kini, setiap ada kawan bertanya apakah mungkin suami istri sama-sama belajar? Jawabannya: Ya, mungkin! Di lain waktu akan coba diulas bagaimana tips & trik serta strategi agar sama-sama mendapatkan beasiswa untuk studi bagi pasangan yang ingin menikah muda tapi tetap sama-sama ingin meneruskan kuliah.

Setelah mencari berbagai referensi, konsultasi dengan beberapa pihak, yang dilengkapi dengan istikhoroh, akhirnya saya “mengizinkan” Nia untuk mengambil kesempatan tersebut. Hanya satu permintaan saya kepadanya, yakni pindah ke Victoria University of Wellington (VUW) agar dapat tinggal bersama orang tuanya di kota tersebut. Saya pun sangat meyakini bahwa mereka berdua pun mengharapkan demikian.

Meskipun saya mendapat kepastian lebih dahulu untuk melanjutkan studi dibandingkannya, namun Nia justru akan lebih dulu memulai studinya. Dia dijadwalkan untuk berangkat pada awal Februari 2016 sebab pihak kampusnya lah yang membelikan tiket untuknya. Perkuliahan akan dimulai pada awal Maret 2016 namun sebelumnya akan ada masa orientasi selama dua minggu sebelum perkuliahan dimulai.

 

Long Distance Relationship

5 Februari 2016. Hari itu pun tiba. Hari di mana wanita yang telah saya lamar beberapa bulan sebelumnya akan memulai petualangannya di Negeri Kiwi. Sebenarnya keberangkatannya terhitung cukup mepet karena orientasi sudah akan dimulai pada tanggal 8 Februari. Namun, sampai hari-hari terakhir menjelang keberangkatan masih banyak sekali persiapan, baik untuk rencana pernikahan kami maupun berbagai administrasi beasiswa dan visa ke Selandia Baru. Mengantarkannya ke bandara sungguh tidak mudah karena ini berarti kami baru akan bertemu lagi satu minggu menjelang pernikahan kami. Tidak mudah juga untuk menjaga komunikasi dan tetap berkoordinasi karena perbedaan waktu 6 jam antara Jakarta dan Wellington. Selain itu, semua finalisasi persiapan pernikahan kami akan bertumpuk di rentang satu minggu ketika Nia dan Papanya sudah sampai di Jakarta. Alhamdulillah Mamanya Nia bersedia untuk pulang terlebih dahulu di awal bulan April untuk terutama membantu koordinasi dengan keluarga besar Nia.

Dengan waktu yang begitu mepet, alhamdulillah semua persiapan berjalan dengan lancar. Sehari setelah Nia dan Papa kembali ke Jakarta, kami mengadakan rapat koordinasi antara keluarga inti kedua mempelai, dan pihak Wedding Organiser (WO). Ini merupakan kesempatan terakhir untuk meluruskan semua detailnya sebelum kami pasrahkan teknisnya ke pihak WO dan panitia dari keluarga.

 

Long Distance Marriage

Alhamdulillah. Pada tanggal 30 April 2016 bertempat di Masjid Agung At-Tin, saya mengucap ijab kabul kepada Papa untuk menikahi Anya Safira (Nia) binti Firdauzie Dwiandika dihadapan penghulu yang disaksikan oleh keluarga, tamu undangan, serta para malaikat yang InSyaa Allah mendoakan untuk kebahagian kami.

dss_8155

Namun demikian, seminggu setelahnya kami harus kembali berpisah. Nia beserta kedua orang tuanya harus balik ke Wellington. Papa harus melanjutkan tugasnya di sana, sementara Nia juga harus meneruskan perkuliahannya yang sempat ditinggalkan (dan harus membolos kuliah untuk pulang dan menikah di Jakarta).

Berat rasanya memang ketika harus berpisah dengan wanita yang baru saja kita nikahi. Berbulan madu dengan rindu. But, life must go on. Toh, konsekuensi ini sudah pernah terbayangkan saat pertama kali merencanakannya.

Setelah berbulan-bulan hanya berjumpa via suara, pada awal Ramadhan 2015M/1437H Nia pulang ke Jakarta karena bertepatan dengan libur perkuliahan selama sebulan. Alhamdulillah, dengan masa liburannya selama sebulan, kami dapat berpuasa dan berlebaran bersama. Bagi saya, itu adalah tahun pertama sebagai seorang suami tentunya.

Seperti janji saya kepadanya saat menikahinya, saya mengajak Nia untuk berlebaran di kampung halaman Bapak dan Ibu di Klaten, Jawa Tengah. Momentum ini sekaligus sowan, silaturahim, sekaligus memperkenalkan istri kepada keluarga besar di Klaten, Ambarawa, dan Jogja yang tidak sempat datang menghadiri pernikahan kami di Jakarta sebelumnya. Selain itu, menyempatkan untuk pamit sebab setidaknya selama setahun kedepan kami akan merantau ke Negeri seberang untuk menimba ilmu.

Kembali berpisah dengan Nia setelah Lebaran membuat saya semakin “terbiasa” untuk membina keluarga jarak jauh. Saya percaya, meskipun tidak bertemu secara fisik, setidaknya kami senantiasa bertemu di dalam doa. Di dalam setiap doa yang saya panjatkan, selalu kusebut namanya. Memohon kepadaNya untuk selalu menjaga Nia selama di sana.

Kini di usia 6 bulan pernikahan kami, alhamdulillah saya dan Nia bisa berkumpul kembali di sebuah kota kecil yang sepi nan romantis. Membangun kebersamaan dengan keluarga kecil kami serta menemukan ‘keluarga baru’ yang sangat guyub di sini. Saya bergelut dengan jadwal perkuliahan yang cukup padat, tugas yang bertumpuk, serta segudang bahan bacaan. Sementara Nia, syukur alhamdulillah, mendapatkan izin untuk mengerjakan thesis di luar Selandia Baru sehingga bisa menemani di sini. Masa studi selama setahun yang cukup padat ini kami anggap sebagai honeymoon kedua. Seperti yang selalu dia bilang: “Welcome to postgrad life!

20160930230415_img_0071

Durham, 30 Oktober 2016

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s